Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Panggil Mendag dan Mentan Bahas Harga Ayam Yang Anjlok

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan akan mengundang Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk membahas harga ayam hidup yang ambruk di tingkat produsen.

Darmin menyampaikan ini sebagai jawaban atas demonstrasi oleh peternak ayam di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (5/9) kemarin. Peternak unggas memprotes bahwa harga ayam hidup turun ke tingkat produsen.

“Kami hanya mengundang Kementerian Pertanian dan Perdagangan,” kata Darmin di kantornya, Jumat (6/9).

Namun, dia enggan menanggapi secara rinci ketika kedua menteri dipanggil. Dalam kesempatan berbeda, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Penghasil Ayam Nasional (Gopan), Sugeng Wahyudi, mengatakan bahwa harga ayam di tingkat produsen turun menjadi Rp8.000 per kilogram (Kg) pada bulan Agustus. Harga ayam sangat terpaut dengan biaya produksi (HPP) yang dikatakan mencapai Rp. 18 ribu per kg. Dia mengatakan penurunan harga ayam telah berlangsung selama 13 bulan terakhir.

Sebelum mengunjungi Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, ia mengatakan bahwa petani telah berulang kali mengadakan pertemuan dan evaluasi terkait dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan di Kementerian Pertanian. Mereka juga telah bertemu dengan Polisi dari Kementerian Perdagangan dan Investigasi Kriminal. Namun, semua upaya tidak membuahkan hasil.

“Sejauh ini belum ada perubahan, jadi silakan minta pertemuan dengan pihak yang berkompeten di Kementerian Koordinasi Ekonomi,” katanya, Kamis (5/9).

Menurutnya, penyebab turunnya harga ayam di tingkat peternak adalah kelebihan pasokan ayam di lapangan. Oleh karena itu, solusi jangka pendeknya adalah bahwa perusahaan yang memiliki peternakan besar dapat mengambil ayam di ladang dan menempatkannya di RPH dan kamar dingin untuk mengurangi pasokan.

“yang memiliki peran perusahaan besar ini, aturannya adalah bahwa setiap kelompok atau perusahaan yang memiliki 300 ribu ekor harus memiliki rumah pemotongan ayam,” katanya.