Ambisi Pertamina Olah 100% CPO menjadi BBM

Zehrabilgisayar.net, Migas – Pertamina (Persero) telah menargetkan penggunaan minyak sawit mentah atau disebut juga sebagai Crude Palm Oil (CPO) secara 100% menjadi salah satu bahan bakar minyak biodiesel secara bertahap untuk mendukung energi baru dan terbarukan sekaligus mengurangi impor bahan bakar.

Direktur Utama PT.Pertamina (Persero) Nicke Widyati telah menyatakan ambisinya perseroan menjadikan CPO murni secara 100% sebagai BBM itu akan dimulai dengan proses pengolahan di daerah kilang plaju atau Refinery Unit III yang berada di kota palembang, sumatera barat.

“kami akan melakukan proses suatu pengolahan CPO 100% disini akan menjadi BBM, dikilang plaju” katanya disela kunjungan kerja bersama mesntri ESDM yang terkait dengan green refinery di Pertamnina RU III.

Nicke telah menjelaskan bahwa saat ini perseroan sudah menghasilkan dua jenis bbm biofuel dan yang pertama adalah biodiesel yang populer juga dengan nama B20 dan sekarang dihasilkan oleh RU III dari bahan kernel oil dari CPO yang telah dicampur dengan residu sehingga dapat menjadi produk greenj fuel yang pastinya akan lebih baik.

Telah diketahui, dalam perusahaan ini telah melakukan uji coba dari skema co-processing dengan menginjeksi produk turunan CPO berupa refine bleached deodorized palm oil (RBDPO) secara bertahap 2,5% hingga sampai 7,5% pada akhir tahun lalu.

“Hasilnya cukup menggembirakan, karena bisa memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dengan octane number hingga 91,3,” kata Nicke.

Dia telah mengemukakan nantinya co-processing CPO tersebut tersebut akan diterapkan pula di kilang Pertamina lainnya, yakni di Balikpapan, balongan dan cilacap.

Co-Processing merupakan salah satu opsi metode produksi green – fuel melalui proses pengolahan bahan baku minyak nabati dengan minyak bumi secara bersamaan menjadi green fuel.

Pada pengembangan green energi dikilang plaju yang berkapasitas 20,5 juta barel steam per hari mampu menghasilkan green fuel yang lebih ramah lingkungan sebanyak 405.000 barel perbulan setara juga dengan 64.500kilo liter perbulan.

“Selain itu, kilang ini juga menghasilkan produksi elpiji ramah lingkungan sebanyak 11.000 ton perbulan.” Katanya.

Menurut Nicke, pihaknya telah menjajaki kerjasama dengan PTPN untuk menyuplai kelapa sawit sebagai bahan baku green fuel, agar bahan bakar yang dijual akan tetap terjangkau oleh masyarakat indonesia.

Dalam jangka panjang, pihak pertamina telah melakukan kerja sama operasional (KSO) dengan ENI, salah satu perusahan minyak asal negara italia, agar bahan bakar yang ingin dijual tetap terjangkau.

Kerjasama ini adalah bagian ari komitmen dari pertamina dalam menyediakan bahan bakar yang ramah lingkungan sekaligus mengoptimalkan sumber daya alamdalam negeri untuk menciptakan ketahanan, kedaulatan, dan kemandirian energi sosial.

Sementara itu Menteri ESDM RI Ignasius Jonan mengatakan pemerintah mendukung penggunaan energi atau bahan bakar yang lebih bersih.

“Sehingga nantinya diharapkan bisa mengubah 100% minyak kelapa sawit [jadi BBM] untuk mengurangi emisi gas buang dan polusi,” katanya.

Jonan menambahkan tujuan yang tak kalah penting dari penggunaan CPO adalah untuk mengurangi impor bahan bakar yang selama ini bisa mencapai 400.000 barrel per

“Nanti bisa menggunakan kelapa sawit yang ebrasal dari dalam negeri. Langkah inijuga agar pertamina bisa berubah dari pengelola eneger energy fosil menjadi enerfi terbarukan dari kelapa saawit. Katanya.