Petambak Garam Resah Terhadap Pasaran Garam Yang Sulit Di Jual

zehrabilgisayar.net,Jakarta Pusat— Petambak Garam Nusantara Miminta bantu kepada kementan untuk bertindak tegas untuk penjualan garam lokal yang makin lama harga nya makin menurun yang harga biasa di jual perkilo nya Rp 1.000 namun sekarang di jual perkilo nya hanya Rp 300,dan para petambak mengeluh terhadap pasaran garam yang sekarang sudah sulit di serap oleh Pasar-pasar tradisional. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Aspegnu Achmad Solehan juga mengatakan bahwa garam lokal sudah mulai menurun.

Achmad Solehan mengungkapkan bahwa kita dalam posisi binggung selain harga yang menurun rendah,penerimaan pasar juga sangat rendah di jual meskipun harga sudah menurun jauh dari sebelumnya yang sekitar hanya Rp 300 perkilo namun pasar juga belum bisa nampung garam lokal dengan banyak dan pesanan untuk garam lokal juga semakin menurun,ujar Solehan dikutip zehrabilgisayar.net,Selasa (13/08) jakarta pusat.

Achmad Solehan menduga, tidak maksimalnya serapan garam lokal lantaran begitu banyak garam yang beredar, terutama garam impor. Achmad menjelaskan, para petambak garam lokal sejatinya masih mampu melakukan produksi garam lokal saat musim kemarau seperti ini mencapai 2,5 juta ton sampai 3 juta ton garam per tahun.

Namun, kata Achmad, fenomena terjadi di lapangan tampaknya akan mendorong penurunan produksi garam lokal. Sebab, para petambak garam, cenderung malas melakukan produksi lantaran rendahnya harga jual dan rendahnya serapan.

Produksi berpotensi untuk turun lantaran tidak lahan berproduksi karena malas untuk mengerjakan. Para petambak tidak antusias. Sudah harganya rendah, ditambah tidak mampu terserap, itu persoalan yang paling pokok. Serapan sangat rendah sekali,” ujar Achmad Solehan zehrabilgisayar.net,Selasa (13/08) jakarta pusat.

Achmad menyebutkan, hasil produksi petambak sejak awal tahun hingga saat ini saja belum terserap dengan perkiraan sebanyak 1 juta ton garam. Achmad membantah bahwa kualitas dan kadar garam lokal tidak memenuhi persyaratan bagi sektor industri.

Achmad menilai anggapan itu merupakan wacana lama yang kerap dikatakan sebagai legitimasi pihak-pihak tertentu untuk melakukan impor garam. Achmad menjelaskan, pasar utama lokal adalah industri pengolahan dan industri-industri  yang langsung memanfaatkan garam. Selain industri pengolahan, garam lokal juga mampu diterima di berbagai sektor industri lain.

“Pernah terjadi pada dua tahun lalu saat setop impor, ketika itu harga tinggi sekali. Banyak industri yang menyerap garam lokal, karena kepepet, garam lokal habis dan jadi rebutan,” ucap Achmad.

Achmad mengatakan, Aspegnu bukan menolak impor secara total. Namun meminta pemerintah melakukan impor secara proporsional dan sesuai kebutuhan. Faktanya, kata Achmad, masih banyak stok garam lokal yang belum terserap secara maksimal.

Achmad menegaskan bahwa petambak garam dan pemerintah harus saling membantu untuk memberikan produksi yang bagus dan berkualitas sehingga bisa di pasarkan kembali dengan harga yang lebih tinggi di bandingkan sekarang yang harga nya sangat rendah dan stok produksi yang masih banyak belum bisa di serap di  pasaran, Achmad juga mengatakan bahwa petambak garam harus semangat untuk memproduksi garam yang bagus dan berkualitas.