Kementan Antisipasi Bahaya Hama Baru Ulat Grayak

zehrabilgisayar.net – Kementan buka suara perihal beredarnya serangan ulat grayak untuk petani di Indonesia khususnya di Propinsi Sumatra Barat. Hama Ulat grayak sendiri sebelumnya mulai ditemukan sejak Maret 2019 lalu. Perihal tersebut, tim gabungan dari Direktorat Jendral Tanaman Pangan, Badan Karantina Pertanian dan Dinas Pertanian Sumatra Barat telah memberikan verifikasi.

Menyikapi hal tersebut, Kementan memberikan bantuan pestisida ke lokasi-lokasi yang terindikasi terjadi serangan hama. Tidak hanya bantuan pestisida, Kementan juga melakukan gerakan serangan Spodoptera Frungiperda.

Untuk diketahui, Ulat grayak atau Spodoptera frungiperda yang berasal dari daratan Amerika. Pada tahun 2016, persebarannya telah sampai di Nigeria, dan tahun 2018 telah ditemukan di Thailand dan Sri Lanka. Dan sejak Maret 2019 telah mulai ditemukan di Indonesia.

Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan dan Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan, merekomendasikan langkah langkah penanganan hama baru ini :

  1. Melakukan sosialisasi kepada petugas lapangan dan petani tentang hama Spdoptera frugiperda dan penanganangannya melalui media (cetak dan/atau elektronik).
  2. Melakukan bimbingan teknis kepada petugas lapangan dan masyarakat/petani tentang Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
  3. Melakukan gerakan pengendalian di daerah yang terkena serangan Spodoptera frungiperda.
  4. Mengusulkan penyedia insektisida yang efektif mengendalikan Spodoptera Frungiperda.
  5. Melakukan perbanyakan agens pengendali hayati dengan mengoptimalkan peran Pos Pelayanan Agens Hayati.
  6. Berkoordinasi dengan Badan Karantina Pertanian untuk monitoring dan suerveilans Spodoptera frungiperda.

Diantara sejumlah provinsi yang melaporkan bahaya serangan hama ulat grayak, Provinsi Sumatera utara yang merupakan daerah dengan serangan yang cukup luas